Sunday, December 4, 2016

Rintik Hujan

Berapa kali harus kukatakan padamu betapa aku mengagumimu. Kau hadir di saat yang sudah diramalkan. Tapi tak jarang pula hadirmu begitu tiba-tiba.

Berapa kali kujelaskan padamu bahwa kau menginspirasiku. Hadirmu membangkitkan spontanitasku. Spontanitas yang kerap hibernasi sampai waktu yang bahkan nalarku pun tak bisa memprediksinya.

Saat kau ada, hadir pula ber-rumpun-rumpun memori. Tak melulu indah. Tapi tak hendak kuhapuskan dari ingatan karena kuyakin kenangan tak kan terganti.

Hembusan angin menyapu lembut pipiku yang basah oleh rintikmu. Menyejukkan hingga relungku. Menjanjikan hal yang sama bahwa kau akan selalu ada.

Saturday, September 17, 2016

Halaman Kosong

Kembali kutatap layar kosong laptopku. Entah ke mana hilangnya ide yang dulu dengan mudah kuperoleh. Jangankan ide. Layar pun hitam karena belum kunyalakan laptopku. Kugaruk kulit kepalaku yang tak gatal. Kujambak seraup rambut di bagian atas kepala. Kugaruk lagi kulit kepalaku. Kujambak lagi rambut seolah ide ada di bagian akar rambut yang siap terangkat bila kutarik dan muncul ke permukaan. Kuusap wajah dengan dua telapak tanganku. Aku mengumpat dalam hati. Kusalahkan diriku sendiri yang menjadi tumpul sejak.. Sejak.. 

Kubuka mataku perlahan. Sejurus kemudian kuedarkan pandanganku menyapu seluruh ruang kerjaku. Di mana benda itu. Aku mulai panik. Kubuka laci meja yang hanya ada satu di bagian tengah meja. Kubolak-balik isi laci. Hanya ada beberapa lembar kertas, brosur, dua stabilo kuning dan hijau, dan earphone. Oh tidak. Di mana kumenaruhnya. Aku benci bila harus mengingat-ingat. Berdiri dari kursi, kuhampiri lemari buku yang ada di seberangku. Kutarik buku-buku yang ada di tiap raknya. Tak ada. Di mana terakhir aku menyimpannya.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Disusul terbukanya pintu. Kepala Joshua muncul di sela pintu yang terbuka sedikit.
"Kamu baik-baik aja, Han?", tanyanya.
"I'm fine. Kamu nggak usah khawatir", sambil menjawab, kulengkungkan garis bibirku membentuk senyuman supaya Joshua yakin dan lekas pergi.
"Tadi kudengar seperti ada benda jatuh. Bukan kamu kan yang jatuh?"
"Bukan. Emangnya aku karung beras yang gampang jatuh? Cuma buku kok. Tadi nggak sengaja", jawabku ringan.
Seperti dugaanku, Joshua pun berlalu dan menutup kembali pintu sambil sedikit bergumam. Gumaman yang tak jelas namun aku jamin Ia mencemaskanku. Sangat tipikal Joshua. Kakakku satu-satunya itu memang pencemas. Bahkan sangat protektif padaku. Satu-satunya adiknya. Setidaknya untuk saat ini. Bukan saat dulu. 

Kuputuskan untuk menunda pencarianku yang sempat tertunda karena Joshua. Aku pun mematikan lampu ruang kerja dan melangkah ke dapur. Segelas susu hangat tampaknya cocok menemaniku sebelum tidur.

Sambil menyeruput susu yang masih mengepul, aku menyandarkan punggungku di tumpukan bantal di atas kasur. Kutarik selimut. Hangat dan nyaman di malam yang hujan seperti ini. Rintikan berganti guyuran. Tiba-tiba mataku menangkap benda yang kucari-cari tadi. Itu dia! Di meja rias di seberang tempat tidurku. Segera kusibak selimut. Tergopoh kuhampiri meja rias. Dengan kehati-hatian super ekstra seperti menggendong bayi baru lahir, kuraih benda itu.

Kembali ku duduk di atas kasur bersandar bantal. Kulihat benda itu dengan penuh kasih sayang. Sebuah bingkai putih berdesain bunga-bunga dari besi. Tampak dua perempuan di foto. Keduanya tampak bahagia saling memiliki. Mereka saling berpelukan dan tergelak lepas. Hamparan hijau ditumbuhi bunga tulip berwarna-warni menjadi latarnya. Salah satunya adalah aku. Yang satunya lagi adalah Sunny kembaranku. Di mana Joshua? Dia lah yang mengabadikan momen kala itu.

-bersambung-

Tuesday, August 9, 2016

Mendadak Heboh Karin

Apa yang salah dengan mengunggah video blog atau vlog di youtube? Nggak ada yang salah. Itu adalah hak setiap individu. Apa yang membuat vlog menarik dan mengundang banyak pengunjung lah yang menjadi pe-er tersendiri. Apalagi kalau vlog itu di-monetized. Semakin banyak pengunjung, semakin banyak pundi yang diraup pemilik akun. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apa sih yang patut atau tak patut disajikan dalam vlog? Ini lah yang menarik.

Beberapa waktu belakangan ini, channel Karin Novilda di youtube, yang memiliki akun @awkarin di medsos, ramai jadi bahan obrolan. Awalnya, di suatu malam seorang teman bertanya tentang siapa sih Gaga & Karin. Kabarnya 2 orang itu lagi heboh di medsos. Seorang teman itu bilang kalau Gaga & Karin itu sepasang kekasih yang gemar memamerkan kemesraan di medsos. Saya masih belum tertarik.

Esoknya, seirang teman yang lain memberi saya link Gaga & Karin di youtube. Atas dasar penasaran, saya klik. Untuk ukuran vlog, 30-an menit termasuk menjemukan. Tapi saya berusaha stay tune. Vlog milik Karin yang saya tonton pertama kali adalah Gaga's Birthday Surprise & My Confession. Dari judulnya, saya mulai bertanya what kinda confession. Itulah salah satu alasan saya bertahan menonton, selain dari jumlah viewer yang pada saat itu di angka 1 juta lebih. Bayangkan, untuk akun seseorang yang bukan dari kalangan seleb, mampu menggaet 1 juta pengunjung, sudah luar biasa. Sampai saat saya menulis di blog ini, pengunjung di vlog dengan judul yang saya sebut di atas sudah 2 juta lebih.

Ternyata vlog yang judulnya saya sebut di atas tadi, merekam usaha Karin yang mengumpulkan teman-temannya untuk kasih kejutan ultah Gaga. Padahal beberapa hari sebelum Gaga ultah, mereka resmi putus. ABG banget, iya. Gaya bicara, juga ABG. Tapi, ada tapinya nih. Gaya bicara Karin dan teman-temannya lugas dan tak jarang penuh kata-kata kasar. Buat yang nggak biasa, pasti panas kupingnya. Tapi itulah realita. Saya berusaha menghargai kejujuran yang ditampilkan. Mereka bicara apa adanya. Berekspresi apa adanya. Sampai saat Gaga datang ke tempat surprise party. Karin mulai menangis karena Ia dan Gaga sudah bukan sepasang kekasih. Sebagian orang mungkin menganggap lebay. Ngapain sih nangisin cowo yang udah mutusin. Sebagian lagi mungkin ada yang berpendapat pantas kalau Gaga mutusin Karin karena sebagai perempuan, Karin dianggap bermulut kasar dan berperilaku "kurang manis" layaknya perempuan. Tapi lagi-lagi saya tidak sepemahaman. Bagi saya, nggak apa-apa kok nangisin cowo yang mutusin kita dan nggak apa-apa juga kasih surprise ke mantan yang ultah (ini bukan curcol hehe). Let it flow aja. Lumayan untuk pengalaman dan cerita di masa tua nanti. Saya berharap mudah-mudahan yang dilakukan Karin sekarang nggak membuat dia menyesal di masa tuanya. Semua keseruan Karin dan teman-temannya saat ini semoga bisa jadi bahan cerita dan diambil hikmahnya kelak. Bahwa mereka nggak termasuk golongan yang "telat nakal" nantinya. Kan kadang malah ada yang terbalik. Waktu remajanya manis-manis aja, eh pas tuanya baru bandel.

Ada lagi di episode vlog itu yang mengundang kontroversi. Bagian confession. Lagi-lagi Karin menampilkan dirinya menangis sesenggukan ditemani seorang temannya. Sambil menangis Karin mencurahkan perasaannya setelah diputusin Gaga, terhadap bully yang dia terima di medsos dari haters, hingga pesan kepada siapapun perempuan yang akan menjadi kekasih barunya Gaga nantinya supaya jangan pernah menyakiti Gaga karena Karin akan jadi orang pertama yang membalas sakit yang dialami Gaga. It's soooo teenagers to me. Tapi nggak apa-apa. Semua orang pasti mengalami fase remaja sebelum dewasa kan? Apa sih yang menonjol dari fase remaja? Labil, pembangkang, penasaran, impulsif, konformitas, careless, dan nggak punya rasa takut yang semuanya demi pengakuan bukan lagi anak-anak. Tapi memang, setiap orang punya caranya sendiri menjalani masa remajanya.

Sejak nonton episode itu, saya semakin penasaran. Satu per satu saya tonton semua vlognya yang total ada 8. Bahkan boleh diadu deh, saya lumayan hapal nama teman-temannya Karin. Nggak berhenti di situ. Saya juga jadi ngecek akun instagramnya karena di salah satu vlognya, Karin menjalani sesi pemotretan untuk barang-barang endorse. Setelah buka instagramnya, saya jadi tahu kalau Karin termasuk seleb instagram yang mayoritas postingannya adalah fotonya mengenakan barang-barang endorse. Di satu sisi, Karin termasuk remaja yang di usianya sudah bisa menghasilkan pemasukan. Nggak tiap remaja bisa lho.. Jadi bertanya-tanya, siapa sih sosok Karin sebenarnya. Pertanyaan itu terjawab di youtube. Ada cuplikan berita Karin semasa SMP di Pangkal Pinang sedang diwawancara di salah satu TV swasta soal UN SMP beberapa tahun lalu. Di cuplikan itu Karin mengenakan seragam SMP plus berhijab. Mungkin sekolahnya termasuk yang menerapkan seragam sekolah muslimah untuk siswinya. Saya tidak mau menghakimi terkait hijab dan perilaku seseorang. Yang saya soroti adalah ternyata Karin salah satu siswi berprestasi di kotanya. Selepas SMP, Karin meneruskan sekolahnya di Jakarta. Lagi-lagi saya tidak mau menghakimi Karin. Saya hanya memetik pelajaran bahwa benar ungkapan don't judge a book by its cover. Kita nggak pernah tahu apa yang sudah dialami Karin hingga Ia berperilaku seperti di vlognya di masa remajanya. Kita nggak pernah tahu bahwa ternyata Karin anak yang encer otaknya di balik gaya urakannya.

Tapi sebagai orangtua baru seperti saya yang anaknya masih balita, sosok Karin dan vlognya memberi pelajaran. Bahwa di setiap jaman (entah jaman kakek kita, orangtua kita, kita, anak kita dan seterusnya), remaja seperti Karin dan teman-temannya pasti ada. Hanya kadar dan kemajuan teknologinya saja yang berbeda. Kebetulan di masa sekarang teknologi semakin canggih. Beberapa kali klik, terunggah lah itu vlog yang menampilkan betapa bebasnya pergaulan seseorang. Lantas ke mana orangtua para remaja itu? Wah saya angkat tangan. Nggak berani beropini. Setiap orang punya alasannya masing-masing. Seenggaknya dengan menonton vlog Karin, jadi bekal untuk akan seperti apa saya nantinya menghadapi anak saya saat Ia remaja nanti.