Sunday, April 16, 2017

Setapak Memori

Berjalan ku sendiri
Siang beranjak petang
Ku biarkan kakiku mengayun 
Ke arah yang tak ku tahu
Ku hanya percaya pada kaki dan intuisiku
Selintas inderaku menghidu aroma itu
Aroma yang sekian lama ku kenal 
Aroma yang menimbulkan seribu rasa
Aroma yang membangkitkan memori
Aroma yang entah mengapa membawa keriaan sekaligus kesedihan
Langkahku semakin pasti 
Menuju arah asal aroma 
Aroma yang begitu ku rindu
Namun seketika Ia hilang
Tunggu kataku..
Tapi siapa yang hendak mendengarku
Hanya angin lalu yang menyapaku
Bertanyaku apakah aroma itu mengingatku..
Kembali ku melangkah 
Menapaki memori dalam sunyi

Saturday, April 15, 2017

Ritual Sabtu Pagi Yang Hilang

Tiga bulan belakangan ini, ada kegiatan yang tidak bisa ditawar, yang harus dilakukan setiap sabtu pagi. IELTS Preparation Class. Kelas itu berlangsung dari pukul 8.30-12.30 yang terbagi 2 sesi. Sesi pertama oleh Miss Widdy untuk Speaking & Listening Class, disusul Pak Made (jomplang ya, yang satu dipanggil Miss, sementara yang satunya lagi lebih akrab kita sebut Pak Made) untuk Reading & Writing Class. Di satu hari itu komplit otak ngebul plus ngantuk sekaligus excited. Sehari sebelumnya alias Jumat malam, saya baru sampai rumah antara pukul 21.30-22.00. Langsung tidur? Nggak. Bimo pasti belum tidur jam segitu. So, main dulu lah sama dia. Ngobrol sana-sini dulu. Kadang bacain buku atau nemenin nonton DVD atau youtube tergantung request anak cimit 4 tahun itu. Biasanya saya baru bisa tidur kalau dia sudah tidur. Tapi sejak ada ritual Sabtu pagi tiga bulan lalu, Bimo selalu saya tinggal tidur duluan. Entah dia lanjut main sama Bapaknya atau melek aja sendiri sampai tidur sendiri.

Nah, beruntung saya termasuk Morning Person. Pasti bisa lah misalnya tidur jam 12 malam atau 1 dini hari, tapi paginya udah harus bangun, mandi, dan belajar. Tapi pernah juga salah jadwal. Kelupaan setengah jam karena saya kira jam les jam 9 padahal 8.30 (kebiasaan nganter anak sekolah jam 9 soalnya). Tapi sengantuk apapun, pasti berasa "melek" kalau udah di dalam kelas. Entah kenapa saya begitu rindu suasana belajar. Bertemu orang-orang baru yang jadi teman sekelas juga tak kalah serunya. Saya jadi teringat waktu pertama kali kenalan sama mereka. Beberapa di antaranya punya cara berkenalan yang unik. Pribadi mereka pun unik. Hanya satu yang menyatukan kami. Semangat untuk meraih IELTS Score di atas 6,5 karena tujuan yang sama yaitu kuliah lagi.

Menulis kisah ini tak lepas dari niat utama yang muncul di November 2016. Saya lupa tepatnya tanggal berapa. Yang jelas, kata-kata saya semasa akhir kuliah S1 sekitar 9 tahun lalu, terngiang kembali dan bahkan menggema begitu kuat. Echo-nya sampai menembus ke relung hati dan seluruh sendi (berlebihan tampaknya hehe). Tapi beneran kata-kata itu terus teringat. Jadi begini ceritanya. Kembali ke masa akhir kuliah S1 saya. Di kampus saya ada program akselerasi S2. Kalau biasanya di Indonesia S2 ditempuh dalam waktu 2 tahun, dengan mengikuti program akselerasi itu, mahasiswa hemat setahun karena mata kuliah semester 1-2 S2 dimasukkan saat semester 7-8 S1. Beberapa teman berbondong-bondong ikut program itu. Tapi tidak dengan saya. Setiap ada yang bertanya kenapa saya tidak ikut, jawaban saya hanya satu dan begitu mantap, "Nanti aja gue S2 beasiswa ke Inggris". Kata-kata itulah yang kembali mengusik saya. Sebenarnya sekitar 2 atau tiga tahun lalu, saya sempat tergoda untuk ambil S2, di saat beberapa teman dapat beasiswa ke Inggris. Berhubung anak masih setahun, tampaknya sulit dan nggak tega untuk ninggalin (meskipun bisa juga dibawa tapi masih terlalu kecil dan pasti butuh perhatian ekstra) dan saya masih belum siap membagi perhatian antara sekolah dan anak saat itu, saya urungkan niat dan berkata nanti aja kalau dia udah 4 tahun-an, pikirin lagi rencana itu. Kenapa nunggu anak umur 4 tahun-an? Saya pikir umur segitu untuk seorang anak sudah bisa mengerti kesibukan orangtuanya. Sudah bisa diajak komunikasi dan diberi pemahaman bahwa orangtuanya punya hal lain untuk diperhatikan selain dia dan sudah mulai bisa melakukan beberapa hal sendiri tanpa dibantu alias mulai madiri.

Rupanya kata-kata saya itu kembali tepat waktu, saat bocil hampir 4 tahun, ditambah ada lagi beberapa teman yang mendapat beasiswa ke UK, dan rasa rindu belajar, terbenam di antara buku, muncul begitu kuat. Saya merasa this is it. It's time to spread my wings and pursuit my dreams. Entah ya, mungkin sebagian orang udah malas aja kalau harus membayangkan sekolah. Tapi saya nggak lho. Kebalikannya. Mulai lah saya browsing ini-itu. Beasiswa apa yang kira-kira mau dicoba dan yang jelas harus wajib kudu IELTS Score minimal 6,5. Mau langsung tes, nggak pede. Apa lagi harga tesnya aja udh mahal, kalau persiapan nggak matang kan rugi bandar. Selain mengulik jurusan apa dan di mana, tempat IELTS Preparation juga jadi pe-er. Pilihan pun jatuh ke LBI UI. Lokasinya dekat rumah, jadwalnya pun saya bisa pilih yang sesuai sama jam kerja. Maklum pekerjaan saya yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Libur sama sih 2 hari tapi bukan di weekend dan selalu bergeser maju setiap bulan serta jam kerja yang nanggung banget dari 13.00-20.00. Mau pilih jadwal les kelas malam, nggak kekejar. Akhirnya saya putuskan ambil yang seminggu sekali tapi 4 jam di hari Sabtu. Jadi, setelah perjuangan antara ngantuk dan excited 4 jam di kelas, saya langsung meluncur ke kantor untuk kerja. What a day banget setiap Sabtu. Tapi 3 bulan terasa begitu singkat.



Saya sudah survei beberapa penyelenggara IELTS Preparation lainnya. LBI UI termasuk murah. Tapi pasti ada yang nanya, "Native speaker nggak sih?". Jawabannya nggak. Tapi saya percaya kualitas UI. Tidak mungkin kan ya mereka mempertaruhkan nama besar mereka. Saya juga percaya kalau seseorang bersungguh-sungguh, bisa menyerap esensi pelajaran dengan baik, maka tempat belajar seperti apapun tidak masalah. Untuk bisa belajar di LBI UI juga tidak mudah. Sistem penyaringan mereka ketat. Saya ingat di hari saya mau mendaftar. Saya telat 5 menit dari jadwal pendaftaran. Saya pikir bagian pendaftaran akan memberi dispensasi karena saya hanya 5 menit lebih lambat dari jadwal. Ternyata mereka ketat sekali. Saya ditolak. Besoknya saya kembali lagi di jadwal yang seharusnya dan mengisi formulir. Saya pun ikut Placement Test sesuai jadwal yang ditetapkan. Placement Test berupa Listening, Reading, dan Speaking (minus Writing). Awalnya saya pikir, semua yang ikut Placement Test akan diklasifikasikan ke 3 level yang tersedia. Saat speaking adalah penentuan kita diterima di kelas IELTS Preparation atau tidak. FYI, IELTS Preparation Class tidak lagi membahas Grammar dengan pemahaman yang masuk di kelas itu sudah paham Grammar dan hanya diarahkan ke persiapan IELTS Test. Dari Placement Test, saya masuk ke kelas level 2.

Di hari pertama saya belajar di tempat itu, saya langsung tahu kalau mereka memang tidak main-main. Kualitas pengajarnya juga bagus. Bahkan kelas saya juga ikut IELTS Coaching Clinic di UI Depok beberapa minggu lalu yang diselenggarakan IDP. Meskipun beda institusi, mereka tidak pelit saling berbagi info demi kemajuan students.

Hari Sabtu tepat seminggu lalu, masa belajar saya di LBI UI pun berakhir dengan ditandai Exit Test. Beberapa nilainya sudah keluar. Tinggal Writing aja yang belum. Kalau dibandingkan dengan hasil Entry Test, alhamdulillah semuanya meningkat. Selesai 3 bulan belajar, ada perasaan yang campur aduk. Senang karena sudah banyak kemajuan, sekaligus sedih kelasnya berakhir. Sedih membayangkan tidak akan ada lagi ritual sabtu pagi, tidak bertemu teman-teman sekelas, dan tidak belajar secara formal lagi di dalam kelas. Oh betapa kerinduan untuk sekolah lagi begitu besar ya di diri saya. Les yang cuma 4 jam seminggu saja seperti obat penawar rindu sekolah bagi saya. Rasa yang timbul setiap saya melangkah ke dalam kelas, tidak bisa diungkapkan dan tidak bisa dipahami orang lain. 


Mungkin terkesan melodrama, tapi saya sedih saat menutup pintu itu. Foto di atas saya abadikan tepat setelah saya selesai Exit Test untuk Writing Section. Kepala yang terlihat di balik pintu adalah kepala Pak Made. Sayang saya tidak sempat berfoto bersama teman sekelas dan Miss Widdy. Kalau diperhatikan kelas itu nomor 401. Kebayang kan, dalam kondisi mengantuk, harus naik tangga ke lantai 4 juga merupakan perjuangan hehe.



Nah kalau yang di atas ini suasana kelas sesaat setelah saya menyerahkan kertas essay sebelum saya menutup pintu. Mayoritas memilih tidak melanjutkan ke level 3 (termasuk saya). Itu berarti langkah selanjutnya adalah the real IELTS Test.

Well, I'm gonna miss that class anyway. But I promise to upload another stories and pictures of my next journey. I believe that that class above is just the beginning of my journey.

Sekelumit kata-kata yang pernah saya ucapkan 9 tahun lalu bagai mantra yang membius dan menuntun ke arah yang akan saya tempuh.

Sunday, December 4, 2016

Rintik Hujan

Berapa kali harus kukatakan padamu betapa aku mengagumimu. Kau hadir di saat yang sudah diramalkan. Tapi tak jarang pula hadirmu begitu tiba-tiba.

Berapa kali kujelaskan padamu bahwa kau menginspirasiku. Hadirmu membangkitkan spontanitasku. Spontanitas yang kerap hibernasi sampai waktu yang bahkan nalarku pun tak bisa memprediksinya.

Saat kau ada, hadir pula ber-rumpun-rumpun memori. Tak melulu indah. Tapi tak hendak kuhapuskan dari ingatan karena kuyakin kenangan tak kan terganti.

Hembusan angin menyapu lembut pipiku yang basah oleh rintikmu. Menyejukkan hingga relungku. Menjanjikan hal yang sama bahwa kau akan selalu ada.